|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Tuesday, 26 January 2010 10:01 |
|
Salah satu rencana yang diutarakan TPI terkait siaran berjaringan dalam waktu dekat atau dalam satu tahun pertama ini yakni mereka akan membuat program konten lokal untuk durasi satu jam (60 menit waktu tayang). Bahkan, pada tahun ke dua sampai tahun ke empat, rencananya, TPI akan menambah durasi konten lokal mereka menjadi 120 menit atau 2 (dua) jam penuh. Rencana mengenai pembuatan konten lokal diungkapkan perwakilan TPI, Hermawan, dalam bicang-bincang ringan dengan sejumlah anggota KPI Pusat (Fetty Fajriati, Muhammad Izzul Muslimin, Bimo Nugorho Sekundatmo dan Amar Ahmad) di kantor KPI Pusat (Coffe Morning KPI) Jumat (22/1). Menurut Hermawan, TPI kemungkinan terkait dengan rencananya, dalam waktu atau pada tahun ke 5 (lima) pelaksanaan sistem berjaringan ini akan meningkatkan volume konten lokalnya menjadi kurang lebih 155 menit. “Kemungkinan program-program lokal tersebut akan berbentuk tayangan drama dan pemberitaan,” jelasnya. Selain itu, Hermawan mengungkapkan, kalau nantinya dalam menjalankan sistem siaran jaringan mereka akan membagi Indonesia menjadi 7 (tujuh) zona siaran jaringan. “Sumatera dan sekitarnya dimasukan salam satu zona, di Jawa dibagi menjadi tiga zona, Kalimantan dan sekitarnya satu zona, Bali dan sekitarnya satu zona, lalu Sulawesi serta Papua dalam satu zona,” ungkapnya. Masih dalam persoalan SSB, TPI juga mengutarakan kalau mereka sedang melakukan proses permohonan perizinan disejumlah daerah dan juga pengurusan mengenai badan hukum lokal perusahaan tersebut. “Saat ini, KPI sedang dalam tahap eveluasi dengar pendapat (EDP) dengan sejumlah KPID seperti yang sedang berlangsung di Sulteng pada hari ini,” jelas Hermawan. Menanggapi hal ini, anggota KPI Pusat bidang perizinan, Amar Ahmad menyambut dengan gembira. Dan, dirinya berharap rencana dari TPI tersebut dapat secepatnya berjalan. “Kemungkinan kita akan keliling untuk melihat aplikasi dari pemberlakuan sistem ini. Kita akan lihat, apakah sudah benar-benar dijalan di daerah,” ungkapnya. (ev) sumber: kpi.go.id |
|
|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Tuesday, 26 January 2010 10:00 |
|
Film animasi 3D “Ipin dan Upin” buatan Malaysia yang ditayangkan TPI sedang menjadi fenomena di tanah air. Boleh dikatakan, film yang mengusung kehidupan anak-anak asal negeri jiran ini sangat digemari dan selalu ditunggu-tunggu pemirsa khususnya anak-anak di depan layar kaca. Selain mampu menghibur dengan leluconnya, film ini sarat edukasi dengan nuansa yang Islami sehingga sangat baik di tonton terutama anak-anak kita di rumah. Sejumlah pihak termasuk anggota KPI Pusat memberikan apresiasi terhadap film animasi ini. Bahkan, Wakil Ketua KPI Pusat bidang Isi Siaran, Fetty Fajriati Miftach angkat bicara. Menurutnya, film Ipin dan Upin mengandung begitu banyak cerita yang mendidik dan mencerdaskan bagi penontonnya. Meskipun disajikan dalam bahasa Melayu Malaysia, pesan yang disampaikan justru jadi sangat menarik, lucu dan tetap sampai ke penontonnya. “Isi cerita film ini sangat baik bagi penonton terutama anak-anak kita. Mestinya, kita juga bisa membuat film-film baik, mendidik dan menarik seperti Ipin dan Upin. Saya pikir, kita tentunya bisa membuat itu, apalagi kita punya kekayaan budaya yang melimpah dan itu bisa menjadi ide dalam menginovasi pembuatan film yang serupa,” jelas Fetty ketika acara Coffe Morning KPI Pusat dengan TPI, pekan lalu. Komentar senada juga diungkapkan oleh anggota KPI Pusat lainnya, Muhammad Izzul Muslimin. Menurut Izzul, film yang bercerita tentang kehidupan anak-anak yang dibalut dengan nuansa lokal melayu justru memberikan nuansa berbeda dengan tampilan-tampilan film atau program yang biasa di tonton anak-anak kita. “Anak-anak jadi bisa tahu dan belajar bahasa melayu Malaysia dan lucunya bahasa yang diperagakan di film tersebut justru disukai mereka. Anak-anak saya sangat menyukai film tersebut dan mereka suka cara berbicara Upin dan Ipin,” jelas Izzul. Menurut Izzul, Indonesia bisa membuat program film serupa dengan film Ipin dan Upin tersebut. “Saya rasa, dengan sumber daya manusaia serta juga kekayaan bahasa dan budaya, kita mestinya bisa membuat film-film animasi yang khusus anak-anak seperti Upin dan Ipin,” ungkapnya. (ev) sumber : kpi.go.id |
|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Tuesday, 26 January 2010 09:58 |
|
Televisi tak hanya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan hiburan. Dalam perkembangan teknologinya, TV juga bisa digunakan untuk sebuah layanan pendidikan yang interaktif. Hal inilah yang tengah digodok para ahli di BPPT.
Bambang Heru Tjahjono, Staf Senior PTIK bidang broadcasting dan New Media BPPT mengatakan, tak hanya komputer yang bisa digunakan untuk berinteraksi di dunia maya, TV juga bisa berkembang sebagai suatu media baru.
"Televisi tak hanya berbicara soal penyiaran namun juga bisa sebagai new media yang kini tengah digodok perkembangannya," ujarnya kepada sejumlah wartawan.
Bentuk interaksi yang terjadi, kata Bambang, misalnya seperti menampung komentar si pengguna terhadap suatu tayangan. "Misalnya ada tayangan yang menanyakan, apakah acara ini bermanfaat atau tidak? Nah, dari TV-nya pengguna bisa langsung memberi komentar," tukasnya.
BPPT sendiri, masih kata dia, saat ini sudah mengembangkan prototipe dari TV pendidikan interaktif ini dan direncanakan bakal dilakukan uji coba dalam waktu dekat.
"Untuk diimplementasikan ke stasiun televisi mungkin masih lama karena masih butuh dari kesiapan industri, tapi kita ingin uji coba di daerah-daerah dulu seperti di Pontianak dan Jembrana, Bali," tukasnya. (ev) sumber : kpi.go.id |
|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Monday, 02 November 2009 01:41 |
|
Comcast operator TV Kabel Amerika Serikat (AS) mengumumkan akan menayangkan beberapa program acara populer TV kabel mereka via internet secara gratis bagi para pendaftar di situs mereka. Acara populer dari HBO seperti "Entourage", dan "Mad Men" dari AMC TV termasuk di dalamnya.
Layanan baru Comcast "On Demand Online" hadir setelah operator tersebut mengumumkan kerjasamanya dengan 24 jaringan operator TV Kabel dan broadcaster. Beberapa jaringan TV kabel seperti HBO menentukan program acara apa saja yang diperbolehkan untuk tayang secara online, ada beberapa yang baru sedangkan yang lain diambil dari acara musim lalu.
CEO dari Comcast, Brian Robert memamerkan layanan barunya ini di Web 2.0 Summit di San Fransico hari Selasa lalu, dan mengganggap layanan baru ini sebagai layanan "video on demand on steroids."
Menurut informasi dari Comcast, akses terhadap layanan ini sangat tertutup. Hanya pendaftar yang menggunakan jasa internet Comcast saja yang dapat menikmati acara TV tersebut dan hanya pada komputer di rumah pendaftar. Jika pendaftar Comcast tidak menggunakan layanan internet selain Comcast maka mereka tidak dapat menikmati online viewing.
Pendaftar Comacast dapat mengakses program acara dan film online TV kabel melalui situs Comcast.net dan Fancast.com dan juga website AMC TV milik Cablevision System. Cara Comcast mendeteksi bahwa pendaftar benar-benar menggunakan layanan internet melalui Comcast adalah pada saat pendaftar log-in maka secara otomatis situs akan menjalankan sistem yang akan mengecek modem milik Comcast.
Rencana layanan yang sama juga akan dijalankan oleh operator TV kabel lain pesaing Comcast seperti Time Warner Cable, Verizon Communication dan DIRECTV.
Dengan adanya layanan online ini, Comcast berharap dapat menghasilkan pendapatan dari pemasangan iklan di situs mereka. Red/AN sumber: www.broadcastengineering.com sumber : http://kpi.go.id/
|
|
Last Updated on Monday, 02 November 2009 01:42 |
|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Monday, 02 November 2009 01:39 |
|
Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) berharap Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) terpilih, Tifatul Sembiring, dapat mengkaji kembali ketentuan yang mewajibkan penyiaran televisi menggunakan sistem jaringan.
"Sampai kiamat tidak mungkin 'kawin' dengan mitra di daerah," kata Ketua ATVSI Karni Ilyas dalam Silaturahmi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Telematika dengan Mantan dan Menteri Komunikasi dan Informatika, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Jumat, 23 Oktober 2009 kemarin.
Menurut Karni, kewajiban industri pertelevisian menjalin kerjasama dengan televisi daerah berbenturan dengan kondisi di lapangan. Saat ini saluran televisi yang mengudara umumnya sudah berskala nasional.
"Ini pekerjaan rumah yang tersisa dari mantan Menkominfo pak Muhammad Nuh, Pak Tifatul diharapkan bisa menyelaraskan secara jelas dengan tetap memperhatikan kepentingan publik," ujar Direktur Pemberitaan TvOne ini.
M Nuh dalam sambutannya menjawab, meskipun televisi terpaksa harus menjalin jaringan dengan daera, pasti akan ada kenikmatan yang bisa diperoleh dari televisi jaringan. "Dalam setiap keterpaksaan pasti akan ditemukan kenyamanan," kata M Nuh.
Nuh mengatakan, falsafah dalam industri telematika yang harus dikedepankan adalah kecerdasan. "Kalau TV jaringan belum bisa diselesaikan artinya belum cerdas," ujar pria yang kini menjabat Menteri Pendidikan Nasional.
Sementara itu, Tifatul mengatakan dirinya masih harus mempelajari terlebih dahulu ketentuan televisi jaringan itu. "Saya perlu baca dulu, update dulu, karena peraturan ini baru," ujar Tifatul.
Namun, Tifatul menilai inti dari peraturan itu adalah memberi kesempatan kepada banyak pihak untuk menggunakan bandwidth (lebar pita) yang sangat terbatas. Dengan sistem jaringan itu diharapkan akan ada perubahan dari sistem analog menjadi digital. "Tahun 2018, seluruhnya harus digital," kata Presiden PKS ini. sumber : http://kpi.go.id/
|
|
Last Updated on Monday, 02 November 2009 01:41 |
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 4 of 11 |