|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Monday, 02 February 2009 11:08 |
 Bertempat di Hotel Ros In - Yogyakarta, Selasa 27 Januari 2009, dan di ikuti oleh berbagai kalangan baik dari pemerintahan, mahasiswa dan masyarakat umum. Dengan tema mendorong kesiapan badan-badan publik dan implementasi Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik No. 14 Th 2008. isela-sela diskusi yang terus menghangat, panitia (pokja tv komunitas) juga menayangkan film hasil produksi komunitas video yang mencoba mengkiritisi hal yang berkaitan dengan keterbukaan informasi publik, salah satu diantaranya adalah karya komunitas ”Rumah Pelangi” yang mengambil tema ”biaya pengurusan akta kelahiran” di lingkungan Kab.Magelang – Jawa Tengah amun tidak perlu berkecil hati, bagi rekan-rekan yang tidak sempat hadir, dapat men-download materi link di bawah ini :
http://www.kitaupload.com/download.php?file=715Kebebasan Informasi Publik-TIFA.ppt http://www.kitaupload.com/download.php?file=228KIP_budhi.ppt |
|
Last Updated on Wednesday, 04 February 2009 03:58 |
|
|
Written by Yuyun Trimulyana
|
|
Saturday, 31 January 2009 01:11 |
Dalam pemahaman teknologi televisi digital, migrasi dipahami sebagai sebuah proses transisional menuju digitalisasi sistem penyiaran televisi (baca: transmisi) secara total. Karena teknologi sudah memungkinkan, proses ini bisa dilakukan kapan saja. Banyak stasiun televisi di berbagai negara yang sudah menerapkan teknologi (transmisi) televisi digital. TVRI, kabarnya akan memulainya pada Mei 2009. Artinya, mulai melakukan siaran digital, tanpa meninggalkan siaran analognya. Istilah lazimnya, melakukan multicasting, analog sekaligus digital. Sejumlah stasiun televisi swasta di Indonesia dilaporkan dalam kondisi siap untuk melakukan siaran digital, meski belum menunjuk waktu kapan memulainya. Beberapa televisi lokal baru bahkan menyatakan kesiapannya untuk langsung bersiaran digital. Secara umum, industri penyiaran televisi di dunia memang dalam masa transisi menuju sistem penyiaran televisi digital, yang di kebanyakan negara dilakukan secara multicasting. Artinya, melakukan adaptasi sekaligus memberi peluang khalayak untuk mencoba menikmati kualitas siaran televisi digital, sementara di sisi lain tidak perlu meninggalkan siaran analog berikut bisnis yang menyertainya. Yang terjadi di Amerika adalah proses menuju cut-off siaran analog, dan melakukan migrasi total ke sistem penyiaran televisi digital. Artinya, tidak akan ada lagi siaran televisi yang ditransmisikan secara analog. Semua digital. Inilah yang secara drastis akan merubah pola penerimaan siaran televisi, yang mana memang membutuhkan piranti tertentu yang "digital ready", baik pada pesawat penerimanya, atau menambahkan pesawat televisi lama dengan unit converter digital. Dalam hal ini, Amerika adalah negara pertama yang berani memutuskan untuk melakukan migrasi total ke sistem penyiaran televisi digital (selama ini belum ada satu negarapun di dunia yang sudah melakukannya) . Mungkin karena krisis ekonomi yang begitu hebat, atau kecapekan setelah hingar bingar memilih pemimpin baru, Amerika memutuskan untuk menunda cut-off siaran televisi analognya dari 17 Pebruari 2009 menjadi 12 Juni 2009. Sementara di Indonesia, cut-off kemungkinan baru akan dilakukan pada tahun 2015, atau 2018 atau 2020 ... belum jelas betul, karena regulasi penyiaran di Indonesia memang karakternya begitu. Serba abu-abu, cepat berubah, dan cenderung tidak ada kepastian. Jadi, judul "Disana ditunda, Disini Jalan Terus" yang ditulis Bung Ludi Hasibuan bisa dipahami dengan lebih gamblang. Digitalisasi harus jalan terus karena memang menjadi sebuah keniscayaan. Pelaku industri televisi di Indonesia pada dasarnya siap, begitupun masyarakat yang relatif mudah untuk disiapkan. Tinggal, bagaimana Pemerintah menyiapkan regulasi dan infrastruktur yang lebih bersahabat dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia industri. Bahwa Amerika menunda 4 bulan, apalah salahnya, toh kita sendiri sedang dalam proses menuju kesana secepatnya mungkin masih 10 tahun lagi. sumber : televisianaindonesia |
|
Last Updated on Wednesday, 04 February 2009 04:03 |
|
Written by ian
|
|
Wednesday, 12 November 2008 01:45 |
|
oleh Budhi Hermanto
Kemunculan televisi komunitas di Indonesia tidak terlepas dari proses kritik terhadap keberadaan berbagai televisi di Indonesia itu sendiri, dimana stasiun televisi sebagai media massif yang efektif ternyata tidak mencerahkan kehidupan masyarakat. Sebagian besar program siaran yang ditayangkan tidak mendidik dan jauh dari realitas kehidupan sosial masyarakat kita. Sinetron misalnya, selalu mengetengahkan kemewahan yang tidak dipunyai masyarakat kebanyakan.
Kritik lain adalah, program siaran televisi yang kurang mendidik. Simak saja berbagai tayangan yang tersaji dalam layar kaca kita. Tayangan gosip selebriti yang mengabaikan etika jurnalistik, berbagai sinetron yang menampilkan wajah bengis untuk perebutan harta dan kekuasaan melalui kekerasan yang secara vulgar, tayangan mistis, reality show yang kadang melecehkan martabat manusia dan berbagi tayangan televisi lainnya, menunjukan bahwa media televisi swasta di Indonesia jauh dari harapan sebagai media yang mencerdaskan.
|
|
Last Updated on Monday, 12 January 2009 07:33 |
|
Read more...
|
|
Monday, 09 June 2008 08:39 |
|
Televisi Komunitas, Sebuah Media Alternatif Oleh : Budhi Hermanto
KabarIndonesia (Magelang, 6/2/2008) - Saat ini muncul geliat baru dalam dunia media, khususnya media televisi di Indonesia. Sejumlah televisi berbasis komunitas bermunculan sebagai media dari, oleh, dan untuk warga komunitas itu sendiri. Di tengah gemerlapnya siaran televisi swasta yang menyuguhkan berbagai program hiburan, kehadiran televisi komunitas menjadi warna tersendiri yang menarik untuk dicermati.
|
|
Read more...
|
|
Monday, 09 June 2008 08:38 |
|
Saatnya Menilai Televisi dengan "Rating" Kualitas Minggu, 8 Juni 2008 | 00:46 WIB
DAHONO FITRIANTO & SUSI IVVATY
Prihatin terhadap sistem ”rating” kuantitatif sebagai patokan menilai program televisi, beberapa organisasi independen membuat metode survei lain, yakni menilai kualitas acara televisi. Hasil survei menunjukkan, program yang paling banyak ditonton bukanlah yang bermutu terbaik.
|
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>
|
|
Page 9 of 11 |